Kepala berdenyut dan perut mual di Penanjakan sering langsung dicap sebagai mabuk ketinggian di Bromo. Kenyataannya, sebagian besar keluhan itu punya penyebab lain yang lebih sederhana. Berikut gambaran cara membedakannya, siapa saja yang perlu lebih waspada, dan apa yang perlu disiapkan sebelum ikut paket wisata Bromo.
Apa Itu Mabuk Ketinggian?
Mabuk ketinggian atau acute mountain sickness (AMS) adalah reaksi tubuh yang belum sempat beradaptasi dengan kadar oksigen yang lebih tipis di dataran tinggi. Gejala utamanya sakit kepala, biasanya disertai hilang nafsu makan, pusing, lemas, mual, dan kadang muntah. Rasanya mirip orang yang habis mabuk minuman.
Keterangan itu berasal dari CDC, lembaga pengendalian penyakit Amerika Serikat, dalam panduan kesehatan perjalanan Yellow Book. Menurut panduan yang sama, gejala biasanya muncul 2 sampai 12 jam setelah tiba di ketinggian, dan sering baru terasa pada malam pertama atau sesudahnya.
Apakah Bromo Cukup Tinggi untuk Memicu Mabuk Ketinggian?
Bisa, tetapi peluangnya kecil untuk trip Bromo biasa. Titik tertingginya memang melewati ambang yang disebut CDC, tetapi Anda hanya berada di sana beberapa jam lalu turun lagi pada hari yang sama. Menurut CDC, perjalanan sehari ke dataran tinggi dengan kembali ke tempat lebih rendah pada malam harinya jauh lebih ringan bagi tubuh.
Berikut posisi Bromo dibanding ambang tersebut.
| Titik | Ketinggian | Keterangan |
|---|---|---|
| Penanjakan 1 | sekitar 2.770 mdpl | Titik tertinggi trip, tempat menunggu sunrise |
| Ambang risiko menurut CDC | 2.450 mdpl | Berlaku untuk ketinggian tempat tidur, bukan sekadar singgah |
| Puncak Gunung Bromo (bibir kawah) | 2.329 mdpl | Dicapai lewat tangga kawah |
CDC juga menyebut sebagian orang bisa terkena pada ketinggian di bawah ambang itu, karena kepekaan tiap orang berbeda. Jadi risikonya kecil, tetapi tetap ada, terutama karena perjalanan dari Surabaya atau Malang naik lebih dari dua ribu meter hanya dalam beberapa jam.
Pusing di Bromo Belum Tentu Mabuk Ketinggian
Keluhan pusing di Bromo dan mual saat ke Bromo lebih sering dipicu oleh kondisi perjalanannya sendiri. Rombongan dijemput sekitar tengah malam, melewati jalan menanjak yang berkelok, lalu berdiri di udara dingin sebelum matahari terbit.
| Penyebab | Tanda yang sering muncul | Yang bisa dilakukan |
|---|---|---|
| Kurang tidur | Kepala berat, mengantuk, mudah mual | Tidur beberapa jam sebelum dijemput |
| Mabuk darat | Mual sejak di mobil atau jeep, keringat dingin | Duduk di depan, pandang jauh ke depan, bawa obat anti mabuk pribadi |
| Udara dingin | Menggigil, tangan kebas, lemas | Pakai jaket berlapis, kupluk, sarung tangan |
| Perut kosong | Gemetar, pusing saat naik tangga kawah | Makan ringan sebelum berangkat, bawa camilan |
| Kurang minum | Sakit kepala, bibir kering | Minum air hangat sedikit-sedikit tapi sering |
| Asap kawah | Batuk, dada terasa tidak nyaman di bibir kawah | Pakai masker atau buff, jangan berlama-lama di bibir kawah |
Kalau keluhan mereda setelah Anda makan, minum, dan badan hangat kembali, kemungkinan besar penyebabnya salah satu dari daftar di atas.
Gejala Mabuk Ketinggian yang Perlu Dikenali
Mabuk ketinggian punya pola yang cukup khas. Waspadai kombinasi berikut, terutama kalau muncul setelah beberapa jam berada di atas.
- Sakit kepala yang tidak hilang meski sudah minum dan makan.
- Mual atau muntah yang tidak berhubungan dengan goyangan kendaraan.
- Lemas berlebihan sampai malas bergerak.
- Pusing yang terasa seperti mabuk.
- Hilang nafsu makan.
CDC juga menyebut dua kondisi yang lebih berat dan jarang terjadi. Yang pertama pembengkakan otak akibat ketinggian, dengan tanda kebingungan, jalan sempoyongan, dan sangat mengantuk. Yang kedua cairan di paru, dengan tanda sesak napas bahkan saat duduk diam, kadang disertai dahak berdarah.
Siapa yang Perlu Lebih Waspada?
Kepekaan tiap orang terhadap ketinggian berbeda, dan tidak ada angka pasti yang berlaku untuk semua. Beberapa kelompok sebaiknya lebih berhati-hati sebelum berangkat.
- Pernah mengalami mabuk ketinggian di gunung atau negara lain.
- Punya penyakit jantung, paru, atau asma. Konsultasikan ke dokter sebelum ikut trip yang naik tinggi dalam waktu singkat.
- Ibu hamil, lansia, dan anak kecil. Tubuh mereka lebih sensitif terhadap dingin, kurang tidur, dan jalan berkelok.
- Menginap di penginapan sekitar Bromo. Semakin lama berada di ketinggian, semakin besar kesempatan gejala muncul, sesuai pola 2 sampai 12 jam dari CDC.
Cara Mencegah Mabuk Ketinggian Saat ke Bromo
Langkah pencegahannya sebagian besar sama dengan cara menjaga badan tetap fit selama trip.
- Tidur sebelum penjemputan, meski hanya tiga atau empat jam.
- Makan ringan sebelum berangkat, jangan naik dengan perut kosong atau terlalu kenyang.
- Minum cukup sepanjang perjalanan. Air hangat dalam termos lebih nyaman di udara dingin.
- Hindari alkohol. CDC menyarankan tidak minum alkohol selama 48 jam pertama di dataran tinggi.
- Naik tangga kawah pelan-pelan. Berhenti kalau napas mulai tersengal, tidak ada yang mengejar Anda.
- Pakai pakaian berlapis supaya tubuh tidak menghabiskan tenaga untuk melawan dingin.
- Bawa obat pribadi, terutama obat anti mabuk perjalanan dan obat rutin. Obat khusus pencegah mabuk ketinggian hanya boleh dipakai atas resep dokter.
Kalau di rombongan ada orang yang rentan, pilih trip yang jadwalnya bisa menyesuaikan kondisi badan. Dengan sewa jeep Bromo untuk rombongan sendiri, Anda bisa berhenti lebih lama atau melewatkan satu titik tanpa mengganggu peserta lain.
Kapan Harus Turun dan Mencari Pertolongan?
Turun ke tempat yang lebih rendah adalah langkah paling efektif. Menurut CDC, gejala mabuk ketinggian membaik cepat setelah turun 300 meter atau lebih, apalagi kalau tidak banyak bergerak. Di Bromo, itu berarti meninggalkan Penanjakan dan kembali ke arah lautan pasir atau desa di bawahnya.
Segera kabari driver dan turun kalau muncul salah satu tanda berikut:
- Sakit kepala makin berat meski sudah istirahat, minum, dan makan.
- Muntah berulang.
- Bingung, bicara melantur, atau jalan sempoyongan.
- Sesak napas saat duduk diam.
Dua tanda terakhir termasuk gawat. Jangan menunggu sunrise, jangan mencoba naik tangga kawah, dan cari pertolongan medis secepatnya.
Kesimpulan
Mabuk ketinggian di Bromo mungkin terjadi, tetapi jarang, karena trip biasa hanya singgah beberapa jam di ketinggian lalu turun lagi. Pusing dan mual di Penanjakan lebih sering berasal dari kurang tidur, jalan berkelok, udara dingin, dan perut kosong, yang semuanya bisa dicegah dengan persiapan sederhana. Kalau sakit kepala tidak membaik atau muncul sesak dan kebingungan, turun adalah jawabannya. Artikel ini bersifat informasi umum dan bukan pengganti nasihat dokter, jadi konsultasikan dulu kalau Anda punya penyakit jantung, paru, atau sedang hamil.
Ada Anggota Rombongan yang Perlu Jadwal Lebih Santai?
Ceritakan kondisi rombongan Anda. Admin kami bantu mengatur jadwal jemput dan titik perjalanan yang lebih nyaman.
Chat Admin di WhatsApp



